HASIL PENGAMATAN KELOMPOK 5
1. Davina Alma Gina (1303625027)
2. Indah Lestari Pakpahan (1303625011)
3. Egi Rahmadhani Nahak(1303625023)
Kelas Pendidikan Kimia B 2025
KEANEKARAGAMAN INTERAKSI BIODIVERSITAS HEWAN DI
TAMAN MARGASATWA RAGUNAN
Nama Umum (Lokal): Sitatunga, Antelop Rawa (Marshbuck).
Nama Ilmiah: Tragelaphus spekii
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Class
Mammalia
Order
Artiodactyla
Family
Bovidae
Genus
Tragelaphus
Species
Tragelaphus spekii
Deskripsi Umum:
Sitatunga, atau Antelop Rawa, adalah mamalia Bovidae berukuran sedang yang sangat teradaptasi
untuk hidup di lingkungan berlumpur dan berawa di Afrika Tengah. Mereka adalah herbivora yang
mahir berenang. Ciri khas utama Kuku yang memanjang dan melebar (adaptasi untuk berjalan di
lumpur) dan merupakan perenang ulung. Ia menunjukkan dimorfisme seksual di mana jantan memiliki
warna cokelat keabu-abuan gelap dengan tanduk spiral panjang, sedangkan betina cenderung
berwarna cokelat kemerahan dan tidak bertanduk. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu
mereka di rawa-rawa padat, yang mereka gunakan sebagai tempat berlindung dari predator.
Ciri-Ciri Morfologi:
Bentuk Tubuh: berukuran sedang, ramping, dan berkaki panjang.
Warna Bulu: memiliki warna bulu coklat kemerahan (betina) hingga abu-abu kecoklatan (jantan),
seringkali dengan tanda-tanda garis dan bintik putih di tubuhnya.
Tanduk: Jika adalah jantan, ia akan memiliki tanduk panjang, melingkar dan memutar ke belakang.
Ciri Kaki: Sitatunga dikenal memiliki kuku yang memanjang dan melebar (mirip pisang) yang
merupakan adaptasi kunci untuk berjalan di tanah lunak dan rawa.
Habitat : Sitatunga adalah antelop penghuni rawa. Habitat alaminya adalah rawa
permanen, padang rumput teki, semak belukar rawa, dan hutan riparian (tepi
sungai) di sepanjang Afrika Tengah.
Lokasi Ditemukan : lingkungan kebun binatang, lingkungan yang disediakan menyerupai habitat
alami dengan gundukan tanah (mungkin berfungsi sebagai area kering untuk
beristirahat), banyak pepohonan, dan vegetasi dedaunan.
Ciri Khas : kuku kaki yang sangat panjang dan lebar. Berfungsi seperti sepatu salju agar
tidak tenggelam saat berjalan di lumpur atau rawa yang becek.
Manfaat dan Peranan : pemakan tumbuhan rawa, sumber makanan penting bagi predator di
Ekologis habitat rawa Afrika, dan penyebaran benih melalui kotoran mereka.
Catatan Hasil : sedang beristirahat (berbaring) di area yang ditinggikan dan kering di
Pengamatan bawah naungan pepohonan.
Interaksi:
Intraspesies: Tidak ada interaksi intraspesies (dengan Sitatunga lain) yang terlihat karena hanya
ada satu individu.
Interspecies/Lingkungan: Interaksi yang terlihat adalah beristirahat/berteduh di lingkungan yang
disediakan (gundukan tanah kering dan pepohonan), menunjukkan hubungan antara hewan dan
kebutuhan dasarnya (keamanan, kenyamanan termal).
Nama Umum (Lokal): Bulus Moncong Babi, Kura-kura Hidung Babi.
Nama Ilmiah: Carettochelys insculpta.
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Class
Reptilia
Order
Testudines
Family
Carettochelyidae
Genus
Carettochelys
Species
C. insculpta atau Carettochelys insculpta
Deskripsi Umum:
Bulus Moncong Babi adalah reptil air tawar yang unik dan merupakan satu-satunya anggota yang
tersisa dari famili kuno (Carettochelyidae). Ia memiliki penampilan yang menyerupai penyu laut karena
keempat anggota badannya telah berevolusi menjadi sirip yang kuat, sangat berbeda dengan kaki
berselaput pada kura-kura air tawar lainnya. Ciri paling khasnya adalah moncong berdaging dengan
lubang hidung ganda yang menonjol, memberinya nama "hidung babi." Mereka adalah omnivora yang
sangat akuatik, hanya betina yang sesekali keluar dari air untuk bertelur.
Ciri-Ciri Morfologi:
Bentuk Karapaks (Cangkang Atas): Karapaks terlihat bundar, pipih, dan ditutupi kulit liat (seperti
kura-kura cangkang lunak) tetapi lebih tebal.
Warna: Tubuh dan cangkang terlihat cokelat gelap kehitaman di air.
Bentuk Kepala dan Hidung: Moncong tidak berbentuk tabung panjang seperti Amyda, melainkan
berupa hidung pendek, besar, dan berdaging dengan lubang hidung ganda, sangat menyerupai
moncong babi (ciri khas spesies ini).
Kaki (Anggota Badan): Kaki berbentuk sirip seperti dayung yang sangat besar, menyerupai kaki
penyu laut (ciri adaptasi yang unik). Kuku-kuku hanya terdapat pada dua jari di setiap sirip.
Habitat : Sungai, danau, laguna, dan kolam di wilayah selatan Papua (Indonesia dan
Papua Nugini), khususnya di perairan tawar dengan dasar berlumpur atau
berpasir.
Lokasi Ditemukan : lingkungan kebun binatang, berada di kolam air tawar buatan yang dangkal.
Ciri Khas : kuku kaki yang sangat panjang dan lebar. Berfungsi seperti sepatu salju agar
tidak tenggelam saat berjalan di lumpur atau rawa yang becek.
Manfaat dan Peranan : berperan sebagai pemakan buah-buahan yang jatuh ke air dan pembersih
Ekologis alga, menjaga kejernihan perairan.
Catatan Hasil : terlihat mengambang atau berenang santai di bawah permukaan air.
Pengamatan Bentuk sirip yang besar mengindikasikan bahwa hewan ini sangat aktif dan
Adaptif di air.
Interaksi:
Termoregulasi: Mengambang di permukaan yang terkena cahaya matahari (meski samar)
mungkin merupakan upaya termoregulasi yang halus, meskipun mereka umumnya cenderung
lebih senang di bawah air.
Predasi: Bulus memangsa ikan kecil, moluska, atau serangga air (pemangsa).
Nama Umum (Lokal): Lutung Budeng
Nama Ilmiah: Trachypithecus auratus.
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Class
Mammalia
Order
Primates
Family
Cercopithecidae
Genus
Trachypithecus
Species
T. auratus atau Trachypithecus auratus
Deskripsi Umum:
Lutung Budeng (Javan Langur) adalah primata endemik Jawa. Hewan ini termasuk kera Dunia Lama
yang sebagian besar folivora (pemakan daun), didukung oleh sistem pencernaan khusus. Meskipun
dijuluki "Budeng" (hitam), spesies ini dikenal karena variasi warnanya yang unik (polimorfisme);
mayoritas berwarna hitam pekat, namun ada pula yang berwarna emas-jingga. Semua bayi lahir
dengan warna jingga cerah yang kontras, yang berfungsi sebagai sinyal pengenal bagi anggota
kelompok. Mereka hidup secara arboreal dan membentuk kelompok sosial yang teratur.
Ciri-Ciri Morfologi:
Warna Bulu: Dominan hitam legam atau coklat gelap (ciri khas Lutung Budeng fase melanistik).
Beberapa individu dalam spesies ini bisa berwarna jingga/emas (fase non-melanistik.
Ekor: Ekor panjang (terlihat menjuntai atau melilit pada objek di kanan).
Bentuk Tubuh: Tubuh ramping, sesuai dengan primata pemakan daun (folivora).
Wajah: Wajah terlihat gelap, mungkin dikelilingi sedikit rambut yang lebih panjang atau abu-abu
di pipi.
Habitat : Hutan primer dan sekunder, hutan pegunungan, hutan dataran rendah, dan
hutan bakau di Pulau Jawa, Bali, dan Lombok. Mereka adalah arboreal (hidup
di pohon).
Lokasi Ditemukan : berada di dalam kandang besi tinggi di kebun binatang.
Ciri Khas : Bayi yang baru lahir selalu berwarna oranye terang, padahal induknya hitam
pekat. Warna terang ini berfungsi sebagai sinyal bagi monyet betina lain
untuk ikut merawat bayi (sistem sosial).
Manfaat dan Peranan : menyebarkan benih melalui kotorannya dan bagian dari rantai makanan
Ekologis sebagai mangsa bagi predator besar seperti elang atau macan tutul Jawa
Catatan Hasil : terlihat bergantung dan bertengger pada kayu/ranting yang disediakan di
Pengamatan dalam kandang, menunjukkan perilaku arboreal alami mereka dan terdapat
dua individu dalam satu kandang (walaupun di sisi yang berbeda),
mengindikasikan bahwa mereka ditempatkan dalam kelompok sosial, sesuai
dengan sifat Lutung yang hidup berkelompok.
Interaksi:
Interaksi Intraspesies:
o Sosial: Adanya dua individu dalam satu kandang menunjukkan interaksi sosial dasar seperti
bertengger berdekatan atau berbagi ruang.
Interaksi Abiotik/Lingkungan:
o Pergerakan: Berinteraksi dengan ranting/kayu sebagai tempat pergerakan dan istirahat,
yang merupakan substitusi lingkungan alami (pohon) yang disediakan.
Nama Umum (Lokal): Kuau Perak, Kuang Cermin, Pegar Perak.
Nama Ilmiah: Lophura nycthemera.
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Class
Aves
Order
Galliformes
Family
Phasianidae
Genus
Lophura
Species
L. nycthemera atau Lophura nycthemera
Deskripsi Umum:
Kuang Perak adalah burung darat dari famili Phasianidae (keluarga pegar dan ayam). Spesies ini
dikenal karena dimorfisme seksual yang ekstrem. Jantan memiliki bulu yang spektakuler, tubuh dan
ekor panjang berwarna perak-putih dengan pola garis hitam halus yang rumit, serta jambul hitam dan
kulit wajah merah cerah. Sebaliknya, betina memiliki bulu yang lebih kusam, umumnya cokelat keabu-
abuan, untuk kamuflase saat mengerami. Mereka adalah burung terestrial yang menghabiskan
sebagian besar waktu mereka mengais makanan di lantai hutan.
Ciri-Ciri Morfologi:
Bulu (Plumage): Bagian tubuh utama dan ekor panjangnya berwarna putih keperakan dengan
motif garis-garis tipis hitam yang tersusun rapi, memberikan efek visual seperti cermin atau
perak.
Kepala: Kepala berwarna hitam kebiruan atau gelap.
Jambul: Terdapat jambul (crest) putih/keperakan yang menjuntai ke belakang.
Wajah: Terdapat kulit merah yang tidak berbulu di sekitar mata.
Ekor: Ekor sangat panjang dan berjenjang (graduated tail), merupakan ciri khas pejantan Kuang.
Habitat : Kuang Perak berasal dari hutan pegunungan dan dataran tinggi di Asia
Tenggara, terutama di Tiongkok Selatan, Vietnam, Myanmar, Thailand, Laos,
dan Kamboja. Mereka hidup di bawah kanopi hutan yang rapat.
Lokasi Ditemukan : berada di dalam kandang kawat besi dengan dasar tanah/pasir. Lingkungan
ini adalah kebun binatang.
Ciri Khas : memiliki bulu putih keperakan bergaris hitam dan ekor yang sangat panjang,
untuk pamer dan menarik perhatian betina saat musim kawin.
Manfaat dan Peranan : membantu menyebarkan benih dan mengontrol populasi serangga, Menjadi
Ekologis mangsa bagi predator darat dan udara di habitat aslinya, dan untuk
Hiasan/Aviari.
Catatan Hasil : terlihat sedang makan (berinteraksi dengan tempat pakan), menunjukkan
Pengamatan perilaku mencari makan (foraging).
Interaksi:
Interaksi Biotik (Manusia): Interaksi dengan pakan yang disediakan oleh manusia/penjaga
(terlihat dari tempat pakan hijau di kandang).
Interaksi Abiotik:
o Termoregulasi: Hewan berada di area yang terkena sinar matahari (terlihat dari bayangan
yang kuat). Ini adalah upaya mengatur suhu tubuh (berjemur).
o Substrat Tanah/Pasir: Kuang Perak berinteraksi dengan lantai tanah/pasir yang
merupakan habitat dasarnya (terrestrial), meskipun di lingkungan buatan.
Nama Umum (Lokal) : Monyet kokah, Lutung Kokah
Nama Ilmiah : Presbytis percura
Klasifikasi dan Taksonomi:
Nama Takson
Animalia
Chordata
Mammalia
Primates
Cercopithecidae
Presbytis
Presbytis percura.
Deskripsi Umum:
Lutung Kokah (Presbytis comata) adalah primata endemik Jawa dari famili Cercopithecidae yang hidup
berkelompok dan aktif di pepohonan (arboreal) di hutan tropis, dengan diet utama terdiri dari daun
muda, bunga, dan buah-buahan. Spesies ini dicirikan oleh warna tubuhnya yang gelap atau
kecokelatan, wajah kehitaman, postur ramping, dan ekor panjang yang berfungsi sebagai
penyeimbang saat bergerak lincah di dahan. Lutung Kokah memiliki sistem pencernaan khusus untuk
mengolah serat tinggi dari tumbuhan dan sangat bergantung pada kualitas hutan primer sebagai
habitat makan, istirahat, dan berkembang biak, sehingga kerusakan habitat merupakan ancaman
utama bagi kelangsungan hidupnya.
Ciri-Ciri Morfologi:
Bentuk Tubuh: berukuran sedang, tubuh ramping dengan tangan dan kaki panjang yang
memudahkan bergerak dan bergelantungan di pohon.
Warna Bulu: umumnya berwarna gelap kehitaman atau kecokelatan dengan bagian dada dan perut
yang lebih terang; beberapa memiliki pola putih di sekitar dagu dan pipi seperti yang tampak pada
gambar.
Tangan & Kaki: jari-jari panjang dan kuat, berfungsi untuk mencengkeram cabang pohon maupun
jeruji kandang seperti terlihat pada foto.
Ekor: panjang dan tidak berbulu lebat, membantu menjaga keseimbangan saat memanjat atau
berpindah antar dahan.
Wajah: berwarna gelap dengan ekspresi mata tajam, hidung relatif kecil dan bibir terlihat halus.
Habitat : Lutung kokah merupakan primata penghuni hutan hujan tropis, khususnya
hutan dataran rendah hingga pegunungan di Pulau Jawa. Mereka hidup di
tajuk pepohonan (arboreal) dan jarang turun ke tanah.
Lokasi Ditemukan : Teramati berada di dalam kandang kebun binatang, terlihat berpegangan
pada jeruji besi. Lingkungan ini kemungkinan dibuat sebagai area
penangkaran atau konservasi yang menggantikan habitat asli di alam.
Ciri Khas :Berbulu gelap dengan bagian dada dan wajah kontras terang, pergerakan
lincah, tubuh ramping, dan Menjaga keseimbangan vegetasi hutan dengan
konsumsi daun.
Manfaat dan Peranan : Menjadi bagian penting dalam rantai makanan, membantu menyebarkan
Ekologis benih melalui kotoran saat berpindah dan mengontrol populasi serangga,
dan Menjaga keseimbangan vegetasi hutan dengan konsumsi daun.
Catatan Hasil : terlihat duduk diam di dalam kandang, berpegangan pada jeruji,
Pengamatan ekspresinya tampak tenang atau mengamati sekitar, tidak terlihat aktivitas
makan, lebih cenderung dalam posisi istirahat atau waspada pasif.
Interaksi:
Interaksi Abiotik :
o Monyet Kokah berinteraksi dengan teralis besi yang sangat rapat, menunjukkan interaksi
dengan batas fisik yang membatasi gerakan alami (arboreal) di lingkungan penangkaran.
Interaksi Biotik:
o Monyet menggunakan tangan dan kaki untuk memegang dan menyeimbangkan dirinya pada
struktur logam vertikal kandang, sebagai pengganti dahan pohon yang biasa digunakan di
alam liar.
o Secara tidak langsung, kehadiran monyet di dalam kandang ini menandakan interaksi
dengan manusia melalui perawatan, pemberian pakan, dan pengelolaan kandang yang
merupakan ciri lingkungan buatan.
Interaksi Kognitif :
o Hewan terlihat menghadap lurus ke depan melalui celah jeruji. Perilaku ini menunjukkan
interaksi mengamati lingkungan luar (pengunjung atau penjaga), yang merupakan perilaku
umum primata di penangkaran.
Nama Umum (Lokal) : Rusa Tutul
Nama Ilmiah : Axis axis
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Class
Mamalia
Order
Antiodactyla
Family
Cervidae
Genus
Axis
Species
Axis axis
Deskripsi Umum:
Rusa tutul atau Axis axis adalah mamalia herbivora berukuran sedang dari keluarga Cervidae yang
dikenal dengan pola totol putih yang tetap terlihat sepanjang hidupnya. Tubuhnya ramping, kaki relatif
panjang, dan bulunya berwarna cokelat kemerahan dengan deretan bintik putih menyerupai pola
tutul yang menjadi ciri khas utama spesies ini. Jantan memiliki ranggah bercabang yang terlepas dan
tumbuh kembali setiap tahun, sementara betina umumnya tidak bertanduk. Rusa ini hidup
berkelompok dan banyak ditemukan di padang rumput, hutan tropis, serta daerah semak terbuka di
Asia Selatan, terutama India. Mereka aktif terutama pada pagi dan sore hari, memakan rerumputan,
daun muda, serta buah-buahan hutan, dan memiliki kelincahan tinggi dalam berlari untuk
menghindari predator.
Ciri-Ciri Morfologi:
Bentuk Tubuh: Berukuran sedang dengan tubuh ramping, leher panjang dan kaki relatif jenjang
sehingga memudahkan mereka bergerak gesit saat berlari.
Warna Bulu: Coklat kemerahan dengan deretan bintik putih yang kontras di sepanjang tubuh ciri
utama yang tidak hilang sepanjang hidupnya. Betina cenderung memiliki warna lebih terang,
sedangkan jantan sedikit lebih gelap.
Tanduk: Hanya dimiliki oleh rusa jantan, berupa ranggah bercabang tiga yang lurus memanjang
ke atas, tidak spiral seperti sitatunga. Dalam gambar terlihat setidaknya satu individu jantan
dengan tanduk bercabang.
Ciri Kaki: Kaki relatif ramping dan kuat, dilengkapi kuku kecil yang cocok untuk berlari cepat di
padang rumput dan lantai hutan.
Bentuk Kepala: Mungil dan memanjang, telinga tegak dan runcing, mata besar dengan ekspresi
waspada.
Habitat : penghuni hutan gugur, padang rumput, area tepi hutan, dan wilayah dengan
sumber air yang cukup. Mereka banyak ditemukan di Asia Selatan seperti
India, Sri Lanka, Nepal, serta kini telah diperkenalkan ke berbagai wilayah
termasuk taman konservasi atau kebun binatang.
Lokasi Ditemukan : Terlihat berada di area penangkaran/kebun binatang, berciri permukaan
tanah kering, terdapat atap sebagai tempat berteduh, serta beberapa pohon
dan vegetasi ringan sebagai sumber pakan atau tempat berteduh.
Ciri Khas : Bintik putih permanen di tubuh merupakan identitas utama spesies ini,
hidup berkelompok, dan Jantan memiliki ranggah yang bercabang dan
tumbuh ulang setiap tahun.
Manfaat dan Peranan : Menjadi herbivora yang memakan rumput, dedaunan, dan buah, sehingga
Ekologis membantu menjaga keseimbangan vegetasi hutan, Menjadi mangsa alami
predator besar dan Mendukung penyebaran biji melalui pencernaan dan
kotoran mereka.
Catatan Hasil : Rusa tampak beristirahat di bawah naungan bangunan untuk menghindari
Pengamatan panas, Satu individu berdiri di depan, sedangkan lainnya berbaring santai di
belakang.
Interaksi:
Interaksi Abiotik (Termoregulasi dan Substrat) :
o Beberapa rusa beristirahat di bawah atap buatan (naungan) pada siang hari yang terik. Ini
adalah perilaku untuk mengatur suhu tubuh (mencari keteduhan).
o Rusa berinteraksi dengan tanah kering/berpasir sebagai alas tempat mereka berdiri dan
beristirahat.
Interaksi Biotik:
o Rusa di bagian depan tampak mengunyah/memakan sesuatu (kemungkinan sisa rumput
kering atau pakan yang disediakan).
Interaksi Intraspesies (Sosial) :
o Terlihat beberapa individu Rusa Tutul berada dalam satu area, dengan satu individu berdiri
di depan dan beberapa lainnya berbaring di bawah naungan. Ini menunjukkan interaksi
sosial dalam kelompok.
Nama Umum (Lokal): Binturong, Kucing Beruang, menturung, menturun.
Nama Ilmiah: Arctistic binturong.
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Class
Mammalia
Order
Carnivora
Family
Viverridae
Genus
Arctistis
Species
A.binturong atau Arctistis binturong
Deskripsi Umum:
Binturong, atau sering disebut kucing beruang, adalah mamalia arboreal (berpohon) omnivora dari
keluarga musang (Viverridae) yang tersebar di Asia Tenggara dan merupakan satu-satunya anggota
genus Arctictis. Dikenal aktif di malam hari, Binturong memiliki tubuh panjang, rendah, dan berotot
yang ditutupi bulu hitam tebal dengan kumis dan alis lebat, serta uniknya, mereka berjalan dengan
telapak kaki rata seperti beruang. Ciri khas paling penting mereka adalah ekor prehensil yang sangat
kuat, digunakan untuk mencengkeram dahan saat memanjat, menjadikan Binturong sebagai salah
satu dari hanya dua spesies karnivora yang memiliki kemampuan ekor tersebut.
Ciri-Ciri Morfologi:
Tubuh: Panjang, rendah, dan gempal, seringkali disamakan seperti beruang atau musang besar
Bulu: Tebal, kasar, dan panjang. Warnanya umumnya hitam atau cokelat tua, terkadang dengan
ujung berujung abu-abu atau krem sehingga tampak berbintik-bintik.
Ekor: Panjangnya hampir sama dengan panjang kepala dan tubuh, tebal di pangkal, dan prehensil
(dapat mencengkeram) untuk membantu memanjat.
Wajah: Memiliki moncong pendek dengan kumis hitam panjang dan putih.
Kaki: Kaki rata seperti beruang dan berjalan dengan kaki datar, namun memiliki kemampuan
untuk memutar pergelangan kaki 180 derajat untuk mencengkeram saat menuruni pohon
dengan kepala terlebih dahulu.
Cakar: Tajam dan dapat membantu mencengkeram dahan.
Habitat : Binturong tersebar luas di hutan tropis dan subtropis di Asia Selatan dan
Tenggara, termasuk hutan primer dan sekunder, mulai dari dataran rendah
hingga ketinggian sekitar 1.000 mdpl. Mereka mendiami wilayah yang luas,
mencakup negara-negara seperti India, Tiongkok, Myanmar, Malaysia,
Indonesia, Filipina, dan negara-negara lain di Indocina.
Lokasi Ditemukan : Teramati dalam kandang kebun binatang, terlihat binturong berada di
sebuah bangunan kayu seperti rumah pohon. Lingkungan ini dibuat
sedimikian rupa agar menyerupai dengan habitat aslinya.
Ciri Khas : memiliki aroma yang khas, seperti popcorn mentega atau pandan, aktif di
malam hari (nokturnal) dan merupakan pemanjat yang mahir, dan betina
biasanya lebih besar dari binturong jantan dan memiliki pseudo-penis.
Manfaat dan Peranan : Sebagai penyebar biji dan pengendali hama. Mengeluarkan biji tumbuhan
Ekologis melalui kotoran, membantu regenerasi hutan, termasuk untuk jenis pohon
seperti pohon beringin pencekik, karena enzim pencernaannya melunakkan
kulit biji yang keras sehingga lebih mudah berkecambah. Membantu
mengendalikan populasi hewan pengeratpredator besar.
Catatan Hasil : Terlihat tertidur di atas sebuah kayu, binturong terlihat sedang tertidur di
Pengamtan siang hari, menandakan dia adalah mahkluk nokturnal.
Interaksi:
Interaksi Abiotik (Termoregulasi) :
o Hewan berada di tempat yang terbuka namun terlindung oleh kanopi pohon di atasnya
(terlihat dari cahaya yang terfilter), menunjukkan perilaku mencari kenyamanan termal.
Interaksi Biotik:
o Terdapat tumbuhan merambat di dinding beton, yang mungkin digunakan Binturong (hewan
arboreal) untuk memanjat atau berinteraksi secara fisik, meskipun ia sedang beristirahat.
Nama Umum (Lokal) : Labi-labi, Bulus.
Nama Ilmiah : Amyda cartilaginea.
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Class
Reptilia
Order
Testudines
Family
Trionychidae
Genus
Amyda
Species
A.cartilaginea atau Amyda cartilaginea
Deskripsi Umum:
Rusa tutul atau Axis axis adalah mamalia herbivora berukuran sedang dari keluarga Cervidae yang
dikenal dengan pola totol putih yang tetap terlihat sepanjang hidupnya. Tubuhnya ramping, kaki relatif
panjang, dan bulunya berwarna cokelat kemerahan dengan deretan bintik putih menyerupai pola
tutul yang menjadi ciri khas utama spesies ini. Jantan memiliki ranggah bercabang yang terlepas dan
tumbuh kembali setiap tahun, sementara betina umumnya tidak bertanduk. Rusa ini hidup
berkelompok dan banyak ditemukan di padang rumput, hutan tropis, serta daerah semak terbuka di
Asia Selatan, terutama India. Mereka aktif terutama pada pagi dan sore hari, memakan rerumputan,
daun muda, serta buah-buahan hutan, dan memiliki kelincahan tinggi dalam berlari untuk
menghindari predator.
Ciri-Ciri Morfologi:
Bentuk Tubuh: Oval atau agak bulat, lebih pipih, dan tanpa sisik.
Karapas: Tempurung punggung lunak yang dilapisi kulit tebal berwarna abu-abu hingga hitam.
Pada individu muda, kadang terdapat bintik-bintik kuning.
Plastron: Tempurung bagian bawah juga tertutup kulit liat.
Leher: Panjang dan fleksibel, memungkinkannya menghirup udara dari permukaan saat
sebagian tubuhnya terendam dan Kulit leher dapat melipat saat memendek.
Kepala: Berbentuk segitiga dan lincah dan Hidung memanjang berbentuk tabung, seperti
belalai, dengan dua lubang untuk bernapas.
Mulut: Memiliki rahang kuat tanpa gigi, ditutupi lempengan zat tanduk yang tajam.
Kaki: Memiliki selaput di antara jari-jarinya yang berfungsi sebagai dayung untuk bergerak
cepat di air.
Ekor: Jantan memiliki ekor yang lebih panjang dan tebal dibandingkan betina, yang ekornya
lebih pendek dan ramping.
Habitat : perairan air tawar di daerah tropis dan subtropis, seperti sungai, danau, dan
rawa-rawa, di mana mereka lebih menyukai air dengan arus lambat, tenang,
dan dasar berupa lumpur, pasir, atau kerikil. Labi-labi umumnya tersebar luas
di seluruh kepulauan Indonesia, termasuk Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali,
Lombok, dan Papua.
Lokasi Ditemukan : Teramati dalam kandang kebun binatang, terlihat labi-labi ditempatkan di
sebuah kolam yang hampir menyerupai habitat aslinya. Kandang tersebut
dilengkapi kaca yang diperuntukkan agar pengunjung dapat melihat aktivitas
labi-labi dengan lebih mudah.
Ciri Khas : cangkang lunak yang serta bentuk tubuhnya yang oval, lonjong, dan pipih,
yang memungkinkannya bergerak cepat di air. Meskipun tidak bergigi, mereka
memiliki rahang yang sangat kuat dan tajam, serta wajah yang tirus dengan
moncong pendek yang menyerupai hidung pesek dengan dua lubang hidung
untuk bernapas. Adaptasi akuatiknya dilengkapi dengan kaki berselaput.
Manfaat dan Peranan : Rantai Makanan, Penyebar Benih, dan mereka menciptakan habitat dan
Ekologis memodifikasi lingkungan bagi satwa liar lainnya.
Catatan Hasil : Labi-labi terlihat sedang berenang berlalu lalang mengelilingi kolamnya
Pengamatan dan terlihat bahwa hanya ada satu labi-labi di kolam tersebut.
Interaksi:
Interaksi Abiotik (Akuatik dan Substrat Buatan) :
o Labi-labi terlihat mengambang/berenang di air kolam buatan, menunjukkan adaptasi total
dengan lingkungan perairan..
Interaksi Biotik:
o Labi-labi terlihat mengambang/berenang di air kolam buatan, menunjukkan adaptasi total
dengan lingkungan perairan.
Nama Umum (Lokal): Kuao Lady Amherst, Kuao Tembaga Cina, Puyuh Amherst
Nama Ilmiah: Chrysolophus amherstiae.
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Class
Aves
Order
Galliformes
Family
Phasianidae
Genus
Chrysolophus
Species
C. amherstiae atau Chrysolophus amherstiae.
Deskripsi Umum:
Kuao Lady Amherst adalah sejenis burung pegar hias dari keluarga Phasianidae yang berasal dari
Tiongkok dan Myanmar. Burung ini terkenal dengan keindahan bulu jantannya yang berwarna-warni
cerah, sementara betinanya memiliki bulu yang lebih kusam dan berwarna cokelat untuk kamuflase.
Mereka adalah hewan diurnal, yang berarti aktif di siang hari, dan memiliki karakteristik fisik yang
sangat berbeda antara jantan dan betina, termasuk perbedaan pada ekor panjang dan hiasan kepala
yang mencolok pada jantan.
Ciri-Ciri Morfologi:
Kepala: Mahkota putih dengan garis-garis gelap dan jambul merah.
Tengkuk: Putih dengan garis-garis gelap (jubah nuchal).
Dada: Biru terang.
Punggung: Sebagian biru tua, bagian bawah punggung biru.
Perut: Putih.
Ekor: Sangat panjang, berwarna putih keabu-abuan dengan garis-garis hitam dan garis-garis
merah di pangkalnya.
Sayap: Berwarna biru dan cokelat.
Kaki: Berwarna biru keabu-abuan, dan paruh berwarna seperti tanduk.
Kulit Wajah: Kulit di sekitar mata berwarna biru kehijauan.
Habitat : Habitat asli kuau Lady Amherst (Lady Amherst pheasant) adalah hutan dan
semak belukar lebat di daerah pegunungan di Tiongkok barat daya dan
Myanmar utara. Burung ini juga telah diperkenalkan dan ditemukan di habitat
lain, seperti di Inggris.
Lokasi Ditemukan : Lingkungan kebun binatang, lingkungan yang disediakan menyerupai
habitat alami dengan memberikan pohon di dalam sangkar/kandangnya.
Ciri Khas : warna bulu jantan yang sangat mencolok dengan jambul merah, leher
belakang putih kehitaman, punggung hijau metalik, dan ekor panjang yang
bergaris hitam-putih.
Manfaat dan Peranan : Penyebaran Biji, Pengendalian Populasi Invertebrata, Indikator Kesehatan
Ekologis Lingkungan, Nilai Estetika dan Edukasi, Penelitian Ilmiah.
Catatan Hasil : Amherst terlihat sedang berinteraksi dengan pengunjung kebun binatang
Pengamatan dan hal ini menunjukkan bahwa kemungkinan burung tersebut telah
beradaptasi dengan lingkungan sekitar.
Interaksi:
Interaksi Abiotik:
o Burung berinteraksi dengan lantai tanah/pasir kandang sebagai substrat tempat ia berdiri
dan mencari makan.
o Bayangan teralis yang kuat di lantai menunjukkan adanya sinar matahari langsung, yang
digunakan burung darat ini untuk menghangatkan diri (berjemur/termoregulasi)
Interaksi Biotik:
o Burung terlihat berdiri di dekat dan menghadap ke wadah pakan hijau yang berisi makanan
buatan, menunjukkan interaksi utama dengan makanan yang disediakan oleh manusia.
Nama Umum (Lokal): Kancil, Pelanduk
Nama Ilmiah: Tragulus javanicus.
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Animalia
Phylum
Chordata
Class
Mammalia
Order
Artiodactyla
Family
Tragulidae
Genus
Tragulus
Species
T. javanicus atau Tragulus javanicus
Deskripsi Umum:
Kancil atau Pelanduk (Tragulus javanicus) mempunyai ukuran tubuh yang kecil seukuran dengan
kelinci. Panjang tubuhnya sekitar 20-25 cm. Tubuh bagian atas Kancil atau Pelanduk berwarna coklat
kemerahan, sedangkan tengkuk bagian tengah biasanya lebih gelap daripada bagian tubuh lainnya.
Bagian bawah berwarna putih dengan batas sedikit kecoklatan di tengah, tanda khusus di
kerogkongan dan dada bagian atas berwarna coklat tua. Kancil atau Pelanduk merupakan binatang
herbivora yang menyukai rumput, daun-daunan yang berair, kecambah, buah-buahan yang jatuh di
tanah, kulit pisang, papaya, ubi, dan ketela. Binatang ini mempunyai masa mengandung selama 137-
155 hari dan akan menyusui bayinya hingga berusia antara 60-70 hari.
Ciri-Ciri Morfologi:
Bulu: Berwarna Cokelat kemerahan di bagian atas, sedangkan bagian bawah tubuh
berwarna putih.
Tengkuk: Biasanya berwarna cokelat gelap.
Kepala: Berbentuk Segitiga,Telinga berukuran Kecil dan menonjol, serta Moncong yang
Runcing.
Kaki: Berbentuk Ramping, tipis, dan berkuku.
Habitat : hutan tropis yang lebat, lembap, dan selalu berada di dekat air. Mereka lebih
suka berada di semak belukar lebat dan sering membuat jalur kecil di dalam
hutan untuk bergerak. Sebaran geografisnya meliputi Asia Tenggara, seperti
Semenanjung Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan.
Lokasi Ditemukan : Lingkungan kebin binatang, terlihat bahwa kancil tersebut dikurung di dalam
sebuah kandang yang dimana lingkungan di dalam kandang tersebut dibuat
menyerupai habitat aslinya dengan disediakannya tumbuh-tumbuhan yang
menyerupai semak-semak.
Ciri Khas : mamalia kecil berukuran sekitar kelinci dengan ciri fisik seperti tubuh kecil
dan ramping, punggung melengkung, moncong runcing, dan telinga kecil yang
menonjol. Warnanya umumnya cokelat kemerahan dengan bagian bawah
tubuh berwarna putih, dan jantan sering memiliki taring yang keluar dari
bibirnya. Kancil juga dikenal sebagai hewan yang aktif di malam hari
(nokturnal), pemalu, dan penyendiri, serta memiliki diet herbivora.
Manfaat dan Peranan Ekologis :
Konsumen Primer: Kancil adalah herbivora yang memakan buah-buahan jatuh, daun, kuncup, dan
rerumputan, sehingga mengontrol vegetasi dan menjadi sumber energi bagi predator (konsumen
sekunder) seperti macan dan ular.
Penyebaran Biji: Sebagai pemakan buah, kancil membantu penyebaran biji melalui kotorannya,
yang penting untuk regenerasi tanaman dan menjaga keragaman flora di ekosistem hutan hujan.
Indikator Kesehatan Ekosistem: Keberadaan populasi kancil yang sehat menunjukkan
keseimbangan ekosistem hutan, sementara penurunan populasinya akibat perburuan dan hilangnya
habitat mengindikasikan adanya gangguan lingkungan.
Catatan Hasil : Terlihat bahwa kancil sedang beristirahat di bawah tumbuhan atau semak-
Pengamatan semak dan hal ini menunjukkan bahwa kancil memiliki sifat pemalu serta
merupakan hewan nokturnal.
Interaksi:
Interaksi Abiotik:
o Kancil terlihat sedang berbaring atau beristirahat di atas lantai kandang yang berupa tanah
atau pasir kering, menunjukkan interaksi dengan substrat dasar.
Interaksi Biotik:
o Terdapat tumbuhan kecil berdaun hijau di dalam kandang. Kancil (herbivora) mungkin
berinteraksi dengan tumbuhan tersebut sebagai sumber pakan atau elemen habitat.
Interaksi kognitif:
o Kancil berada di antara serasah dan vegetasi kecil (walaupun di kandang) dan postur
tubuhnya rendah, menunjukkan perilaku bersembunyi atau menggunakan warna tubuhnya
sebagai kamuflas
KEANEKARAGAMAN INTERAKSI BIODIVERSITAS TUMBUHAN DI
LINGKUNGAN SEKITAR RUMAH
Nama Umum (Lokal): Pandan Wangi, Pandan.
Nama Ilmiah: Pandanus amaryllifolius.
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Plantae
Phylum
Tracheophyta
Class
Liliopsida
Order
Pandanales
Family
Pandanaceae
Genus
Pandanus
Species
P. amaryllifolius atau Pandanus amaryllifolius
Deskripsi Umum:
Pandan Wangi adalah tumbuhan semak tropis yang mudah dikenali dari daunnya yang panjang, tipis,
dan tersusun seperti kipas (roset). Tumbuhan ini merupakan monokotil dan berbeda dari kebanyakan
kerabat Pandan lain karena tidak memiliki duri pada tepian daunnya. Nilai utama tanaman ini terletak
pada aroma wangi kuat yang khas, berasal dari senyawa alami yang dimanfaatkan luas sebagai
pewangi dan penambah rasa pada masakan, kue, dan minuman di Asia Tenggara. Berbeda dengan
pandan liar lainnya, dan kemampuannya untuk tumbuh rimbun di lingkungan yang lembab, sering kali
dibudidayakan dalam pot sebagai tanaman hias sekaligus bahan dapur yang mudah diperbanyak
melalui stek batang.
Ciri-Ciri Morfologi:
Daun: Panjang, ramping, berbentuk pita, dan ujungnya meruncing. Daunnya tersusun melingkar
dan rapat di pusat tanaman, membentuk roset.
Warna: Daun berwarna hijau cerah dan mengkilap. Tidak terlihat adanya duri pada tepi daun
(membedakannya dari beberapa spesies Pandanus liar).
Aroma: ciri khas spesies ini adalah aroma wangi yang kuat.
Habitat : Biasanya ditemukan di daerah tropis, tumbuh subur di tanah lembab, dekat
rawa, atau di bawah naungan pohon.
Lokasi Ditemukan : ditanam di dalam pot dan diletakkan di teras atau balkon. Ini adalah
lingkungan budidaya atau rumah tangga.
Ciri Khas : aroma yang sangat wangi seperti vanila atau kacang-kacangan, jarang
berbunga dan berbuah. Perbanyakan dilakukan hampir seluruhnya secara
vegetatif (stek atau anakan), berbeda dari kebanyakan spesies genus
Pandanus lainnya (yang sering berduri), P. amaryllifolius memiliki daun yang
mulus tanpa duri di tepinya.
Manfaat dan Peranan : Sebagai produsen utama, Pandan melakukan fotosintesis, menghasilkan
Ekologis oksigen, dan menjadi dasar rantai makanan. Daunnya adalah penyedap rasa
dan pewangi alami yang umum digunakan dalam masakan dan minuman di
Asia Tenggara (misalnya, nasi, kue, santan). Digunakan dalam pengobatan
tradisional (misalnya, untuk menurunkan gula darah atau sebagai penenang
ringan).
Catatan Hasil : Tanaman tampak sehat dengan daun yang hijau cerah dan pertumbuhan
Pengamatan yang rimbun, Tumbuhan ditempatkan di tempat yang mendapat cahaya
matahari yang cukup (terlihat dari pencahayaan terang dan bayangan di
lantai), Tanah penanaman tampak lembab (ciri Pandan yang menyukai air).
Interaksi:
Interaksi Abiotik (Fotosintesis):
o Interaksi dengan cahaya matahari dan air untuk melakukan fotosintesis, yang merupakan
proses kehidupan utama tumbuhan.
Interaksi Abiotik (Lingkungan Budidaya):
o Interaksi dengan pot sebagai pembatas pertumbuhan akar dan tanah/media tanam
sebagai penyedia nutrisi.
Interaksi Biotik (Antar Tumbuhan):
o Adanya tanaman lain menunjukkan adanya kompetisi spasial dan cahaya (meskipun
minimal karena ditanam di pot terpisah).
Interaksi Biotik (Manusia):
o Perawatan yang baik menunjukkan interaksi dengan manusia melalui penyiraman dan
pemupukan.
Nama Umum (Lokal): Pohon Mangga.
Nama Ilmiah: Mangifera indica.
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Plantae
Phylum
Tracheophyta
Class
Magnoliopsida
Order
Sapindales
Family
Anacardiaceae
Genus
Mangifera
Species
M. indica atau Mangifera indica
Deskripsi Umum:
Mangga adalah pohon berkayu keras dan berumur panjang yang dapat tumbuh menjadi sangat besar
dengan tajuk yang rimbun dan melebar. Pohon ini berfungsi sebagai pohon peneduh yang penting di
lingkungan tropis. Batangnya kokoh dan seringkali ditumbuhi lumut. Produk utamanya adalah buah
drup (berbiji tunggal) yang merupakan salah satu buah tropis paling populer di dunia. Pohon ini
memiliki peran ekologis ganda, yaitu sebagai penyerap karbon yang efisien dan penyedia habitat bagi
fauna lokal seperti burung dan serangga.
Ciri-Ciri Morfologi:
Bentuk Pohon: Pohon berukuran besar, bercabang banyak, dan memiliki tajuk (kanopi) yang
rimbun dan lebar.
Batang: Tegak, berkayu keras, dan terlihat kasar dengan kulit yang retak-retak dan berwarna
cokelat keabu-abuan.
Daun: Daun tampak rimbun, berwarna hijau gelap, dan berbentuk memanjang (lanset) (terlihat
dari kerapatan kanopi).
Buah: Terlihat banyak buah kecil bergerombol di ujung ranting (mungkin masih muda atau
bunga yang sudah menjadi bakal buah, terlihat samar-samar di kanopi atas).
Percabangan: Cabang-cabang tidak teratur dan kuat, seringkali tumbuh menyebar ke samping.
Habitat : Hutan tropis, namun sekarang ditanam secara luas di seluruh daerah tropis
dan subtropis. Pohon ini tahan terhadap kekeringan setelah mapan.
Lokasi Ditemukan : Pohon berada di lingkungan pinggir jalan atau area perumahan lingkungan
sekitar.
Ciri Khas : Menghasilkan buah berbiji tunggal yang memiliki aroma dan rasa khas,
pohon berukuran sangat besar dan berumur panjang (hingga ratusan tahun)
dengan tajuk yang melebar, tanaman Mangga menghasilkan getah yang dapat
menyebabkan iritasi kulit.
Manfaat dan Peranan : Dasar rantai makanan, Tajuknya yang rimbun menjadi tempat berlindung
Ekologis dan bersarang bagi berbagai spesies burung, serangga, dan tupai, Pohon
besar berperan penting dalam penyerapan karbon dioksida (CO₂),
Menghasilkan buah yang sangat populer dan bernilai ekonomi tinggi.
Catatan Hasil : Pohon menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat dan mapan (sudah tua)
Pengamatan dengan percabangan yang tebal, Pohon tumbuh di daerah dengan
pencahayaan penuh. Lingkungan sekitarnya terlihat lembab dengan banyak
gulma dan semak di bagian bawah, serta bangunan buatan manusia.
Interaksi:
Interaksi Biotik (Lainnya):
o Interaksi dengan serangga penyerbuk (dihipotesiskan, untuk proses pembuahan dan
menjadi buah).
o Interaksi Epifitisme: Interaksi dengan lumut atau tumbuhan kecil lain yang menempel
pada batangnya (komensalisme).
Interaksi Abiotik:
o Fotosintesis: Interaksi dengan sinar matahari (sebagai sumber energi) dan CO (sebagai
bahan baku).
o Penyerapan Air: Interaksi dengan tanah untuk menyerap air dan nutrisi melalui akar.
Interaksi dengan Manusia:
o Budidaya: Pohon ini sengaja ditumbuhkan dan dirawat oleh manusia (budidaya).
Nama Umum (Lokal): Song of India, Pleomele.
Nama Ilmiah: Dracaena reflexa
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Plantae
Phylum
Tracheophyta
Class
Liliopsida (Monokotil)
Order
Asparagales
Family
Asparagaceae
Genus
Dracaena
Species
D. reflexa atau Dracaena reflexa
Deskripsi Umum:
Song of India adalah tanaman hias semak tropis yang sangat populer, terkenal karena daunnya yang
menarik dan berwarna cerah (variegata). Daunnya berbentuk memanjang, melengkung ke bawah, dan
memiliki garis-garis kuning atau emas yang kontras dengan warna hijau gelap, memberikan sentuhan
warna cerah pada ruangan atau taman. Tanaman ini tumbuh tegak dan ramping, sering bercabang,
dan mudah dirawat. Selain keindahannya, Song of India juga dihargai karena kemampuannya untuk
membersihkan udara di dalam ruangan. Ia tumbuh baik di tempat yang cukup cahaya, namun juga
toleran terhadap naungan ringan.
Ciri-Ciri Morfologi:
Daun: Sangat besar, lebar, dan berbentuk hati/perisai dengan permukaan daun yang tampak
mengilap.
Pertumbuhan: Tumbuh dekat permukaan tanah, menunjukkan karakteristik tanaman herba
(non-berkayu).
Habitat : Varietas asal (Dracaena reflexa) berasal dari pulau-pulau di Samudra Hindia,
seperti Madagaskar, Mauritius, dan Réunion. Tumbuh di hutan tropis.
Lokasi Ditemukan : Ditanam dalam pot dan diletakkan di pekarangan rumah. Ini adalah
lingkungan budidaya tanaman hias.
Ciri Khas : Daun yang memiliki garis kuning keemasan di tepi daun yang kontras dengan
warna hijau di tengah, daunnya tumbuh dan kemudian melengkung ke
belakang (reflexa), memberikan tampilan yang anggun dan berlapis.
Manfaat dan Peranan : Dasar rantai makanan, sangat populer sebagai tanaman hias indoor
Ekologis maupun outdoor karena bentuk dan warna daunnya yang menarikia dikenal
memiliki kemampuan untuk menyaring racun di udara dalam ruangan
(misalnya formaldehida).
Catatan Hasil : Pertumbuhan tampak sehat dan tegak. Daun melengkung ke bawah
Pengamatan menunjukkan upaya untuk memaksimalkan penyerapan cahaya (walaupun
tanaman ini toleran naungan). Tanaman diletakkan di tempat terbuka dan
terpapar sinar matahari (pencahayaan cerah).
Interaksi:
Interaksi Abiotik (Fotosintesis): Interaksi dengan cahaya matahari yang kuat, esensial untuk
menjaga intensitas warna kuning dan melakukan fotosintesis.
Interaksi Abiotik (Lingkungan Budidaya): Interaksi dengan pot dan media tanam sebagai
penyedia nutrisi.
Interaksi Biotik (Manusia): Interaksi dengan manusia melalui perawatan (penyiraman,
pemangkasan) karena statusnya sebagai tanaman hias.
Nama Umum (Lokal): Melatih Putih
Nama Ilmiah : Jasminum sambac
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Plantae
Phylum
Tracheophyta
Class
Magnoliopsida
Order
Lamiales
Family
Oleaceae
Genus
Jasminum
Species
Jasminum sambac
Deskripsi Umum:
Melati Putih adalah tanaman semak berbunga yang terkenal karena aroma bunganya yang sangat
wangi dan menyegarkan. Tumbuhan ini memiliki daun berwarna hijau gelap, berbentuk oval, dan
tumbuh rimbun di tangkainya yang ramping. Meskipun bunganya kecil dan berwarna putih, Melati
sangat dihargai sebagai bunga nasional di beberapa negara dan banyak digunakan dalam upacara
adat, sebagai bahan parfum, teh, dan minyak atsiri. Tanaman ini mudah tumbuh di iklim tropis dan
sering dijadikan tanaman hias karena keindahan dan aromanya.
Ciri-Ciri Morfologi:
Bentuk: Semak kecil, rimbun, bercabang banyak.
Batang: Berkayu, ramping, cokelat kehijauan.
Daun: Hijau mengilap, oval, ujung meruncing.
Bunga: Kuncup kecil di ujung ranting, berwarna putih saat mekar, sangat harum.
Percabangan: Padat dan menyebar.
Habitat : hutan tropis dan subtropis di Asia, terutama berasal dari India dan Bhutan,
dan kini tersebar luas di Asia Selatan dan Tenggara.
Lokasi Ditemukan : Ditanam dalam pot dan diletakkan di pekarangan rumah. Ini adalah
lingkungan budidaya tanaman hias.
Ciri Khas : Bunga putih sangat harum, daun hijau mengilap sepanjang tahun, dan
mudah dibentuk dan dirawat sebagai tanaman hias.
Manfaat dan Peranan : Produsen oksigen, menarik serangga penyerbuk, sebagai habitat serangga
Ekologis kecil. Selain itu untuk Tanaman hias, bahan teh melati, aromaterapi,
digunakan dalam upacara adat.
Catatan Hasil : Tanaman terlihat sehat dan rimbun, ada pucuk dan kuncup bunga baru,
Pengamatan lingkungan lembap dan cukup terang.
Interaksi:
Interaksi Abiotik :
o Tanaman Melati berinteraksi dengan cahaya matahari yang cerah (terlihat dari
pencahayaan di foto) dan karbon dioksida untuk melakukan proses fotosintesis.
o Tanaman Melati berinteraksi dengan cahaya matahari yang cerah (terlihat dari
pencahayaan di foto) dan karbon dioksida untuk melakukan proses fotosintesis.
Interaksi Biotik :
o Melati tumbuh berdekatan dan berhimpitan dengan tanaman lain berdaun lebar
(kemungkinan Dracaena) di sisi kanan, menunjukkan adanya kompetisi untuk
mendapatkan cahaya dan ruang tumbuh.
o Kehadiran kuncup dan bunga menunjukkan adanya proses reproduksi, yang
membutuhkan interaksi dengan serangga atau angin untuk penyerbukan.
Nama Umum (Lokal): Pohon Belimbing Wuluh
Nama Ilmiah : Averrhoa bilimbi
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Plantae
Phylum
Tracheophyta
Class
Magnoliopsida
Order
Oxalidales
Family
Oxalidaceae
Genus
Averrhoa
Species
Averrhoa bilimbi
Deskripsi Umum:
Belimbing Wuluh, atau yang sering disebut belimbing sayur, adalah pohon buah kecil berbatang
tunggal yang berasal dari Indonesia dan tumbuh subur di seluruh Asia Tenggara. Pohon ini dicirikan
oleh daunnya yang majemuk (tersusun banyak anak daun pada satu tangkai) dan menghasilkan buah
kecil, hijau, berbentuk silinder yang bergerombol langsung pada batang atau cabang tua. Buahnya
memiliki rasa sangat asam yang kuat. Belimbing wuluh biasanya ditanam di pekarangan rumah sebagai
sumber bahan masakan, terutama untuk memberi rasa asam pada sayur, sambal, atau membuat
manisan.
Ciri-Ciri Morfologi:
Bentuk Pohon: Pohon berukuran sedang, tumbuh tegak dengan percabangan banyak,
membentuk tajuk yang agak rimbun.
Batang: Berwarna cokelat keabu-abuan, tidak terlalu besar, dan cenderung berkayu lunak.
Batang utama tampak tegak dengan cabang-cabang tipis memanjang.
Daun:
Daun majemuk menyirip (pinnate).
Terdiri dari banyak anak daun yang tersusun berpasangan.
Bentuk anak daun lonjong-lancip, tipis, berwarna hijau muda hingga hijau tua.
Daun tampak menggantung dan bergerombol di ujung ranting.
Bunga: Pada umumnya bunga kecil, berwarna merah keunguan, tumbuh langsung dari batang
(cauliflory). Bunga belum tampak jelas di foto.
Buah: Buah belimbing wuluh berbentuk lonjong seperti torpedo, berwarna hijau terang dan
tumbuh bergerombol langsung pada batang. Pada foto buah belum terlihat.
Habitat : daerah tropis yang lembap, sering ditemukan tumbuh secara alami maupun
dibudidayakan di pekarangan rumah, kebun, dan lahan pertanian di dataran
rendah hingga ketinggian 500 meter di atas permukaan laut.
Lokasi Ditemukan : Pohon tumbuh di pekarangan luar dekat dinding dan tumpukan material
bangunan. Area teduh sebagian dan cukup lembap.
Ciri Khas : Daun majemuk menyirip khas keluarga Oxalidaceae, buah tumbuh langsung
dari batang (cauliflory), dan rasa buah sangat asam dan berair.
Manfaat dan Peranan : Penyedia makanan bagi serangga (bunga) dan hewan kecil. Tajuk memberi
keteduhan dan membantu menjaga kelembapan tanah. Buah digunakan
sebagai bumbu masak (asam alami). Bisa dijadikan bahan minuman
tradisional, manisan, atau obat herbal.
Catatan Hasil : Pohon tampak tumbuh subur meski berada di area sempit. Daun muda
Pengamatan tampak sehat, sementara beberapa daun tua mulai menguning.
Interaksi:
Interaksi Abiotik :
o Pohon Belimbing Wuluh berinteraksi dengan cahaya matahari (terlihat cerah) dan karbon
dioksida untuk melakukan proses fotosintesis.
o Batangnya yang bercabang banyak berinteraksi dengan gravitasi untuk menopang struktur
dan daun majemuknya.
Interaksi Biotik :
o Buah dan daunnya berpotensi menjadi objek interaksi herbivori oleh serangga atau hewan
lain.
Pohon tumbuh di area domestik, sering ditanam oleh manusia untuk dimanfaatkan buahnya
sebagai bumbu masakan.
Nama Umum (Lokal): Sirih Gading Emas
Nama Ilmiah : Epipremnum aureum
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Plantae
Phylum
Tracheophyta
Class
Magnoliopsida
Order
Alismatales
Family
Araceae
Genus
Epipremnum
Species
Epipremnum aureum
Deskripsi Umum:
Sirih Gading adalah tanaman merambat yang sangat populer sebagai tanaman hias indoor karena
perawatannya yang mudah dan kemampuannya untuk bertahan dalam kondisi cahaya rendah.
Tanaman ini dicirikan oleh daunnya yang berbentuk hati dan memiliki pola variegata (berwarna ganda)
dengan kombinasi hijau dan kuning keemasan. Ia termasuk dalam famili Araceae (seperti Talas) dan
dapat tumbuh menjuntai atau memanjat dengan akar udara. Selain indah, Sirih Gading juga dikenal
sebagai salah satu tanaman yang efektif membersihkan racun di udara dalam ruangan.
Ciri-Ciri Morfologi:
Bentuk Tanaman: Tumbuh merambat atau menjuntai, membentuk rumpun lebat yang dapat
merayap di tanah atau memanjat pada media rambat.
Batang: Batang lunak, berwarna hijau muda hingga hijau kekuningan, memiliki ruas-ruas tempat
akar gantung tumbuh.
Daun:
Bentuk daun hati (cordate) dengan ujung meruncing.
Warna hijau cerah dengan corak kuning keemasan (variegata).
Permukaan daun licin, mengkilap, dan tebal.
Daun tersusun berselang-seling pada batang menjalar.
Akar:
Akar adventif tumbuh dari ruas batang, berfungsi untuk menempel saat merambat.
Akar bawah berkembang dari pangkal batang ke tanah.
Bunga: Tanaman jarang berbunga saat dibudidayakan di pekarangan; bunga kecil berupa tongkol
(spadix) khas famili Araceae.
Habitat : Hutan hujan tropis basah di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan Pasifik.
Secara alami, ia tumbuh sebagai tanaman merambat di lantai hutan atau
memanjat batang pohon yang tinggi.
Lokasi Ditemukan : Ditanam di pekarangan rumah dalam pot, ditempatkan di area semi-teduh
dengan cahaya yang cukup.
Ciri Khas : Daun berbentuk hati dengan pola variegata kuning emas, tumbuh merambat
panjang dengan akar gantung dari setiap ruas batang, sangat adaptif dan
mudah tumbuh di berbagai kondisi.
Manfaat dan Peranan : Membantu menjaga kelembaban mikro di area tanam, tanaman hias
Ekologis populer untuk indoor maupun outdoor, dapat menyerap polutan udara
(misalnya formaldehida), dan memberi kesan sejuk dan estetis pada ruangan
atau pekarangan.
Catatan Hasil : Tumbuh cepat dan subur, dengan batang yang memanjang serta akar
Pengamatan gantung yang terlihat jelas, dan tersedia cahaya tidak langsung yang cukup,
media tanam terlihat lembap, dan pot berada di area terlindung.
Interaksi:
Interaksi Biotik:
Akar gantung dapat menjadi tempat singgah serangga kecil.
Tanaman dapat menjadi habitat mikro bagi fauna kecil di pot.
Interaksi Abiotik:
Memerlukan cahaya tidak langsung untuk menjaga corak daun tetap cerah.
Tumbuh baik pada kelembapan tinggi dan tanah gembur.
Interaksi dengan Manusia:
Dibudidayakan sebagai tanaman hias.
Dirawat rutin dengan penyiraman dan pemangkasan batang merambat.
Nama Umum (Lokal): Pacing Pentul
Nama Ilmiah : Costus woodsonii
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Plantae
Phylum
Tracheophyta
Class
Liliopsida
Order
Zingiberales
Family
Zingiberaceae
Genus
Costus
Species
Costus woodsonii
Deskripsi Umum:
Pacing Pentul adalah tumbuhan herba tegak yang sering ditanam sebagai tanaman hias atau tanaman
obat di daerah tropis. Tumbuhan ini dicirikan oleh batangnya yang lurus dan sering terlihat seperti
batang tebu kecil, serta daunnya yang tersusun spiral mengelilingi batang, menghasilkan kesan
rimbun. Ciri paling khasnya adalah bunga yang muncul dari ujung batang dalam bentuk kerucut atau
'pentul' berwarna merah atau cokelat, yang kemudian mengeluarkan bunga berwarna putih atau
kuning. Pacing Pentul dikenal karena kemampuannya tumbuh cepat dan sering digunakan dalam
pengobatan tradisional.
Ciri-Ciri Morfologi:
Bentuk Tanaman: Herba tegak, tumbuh berumpun dari pangkal, dengan batang semu yang
muncul dari rimpang di tanah.
Batang: Berbentuk tegak, silindris, hijau kekuningan, tidak berkayu, dan tumbuh dalam rumpun
padat.
Daun:
Daun tersusun spiral mengelilingi batang.
Bentuk daun elips hingga lonjong, permukaan halus dan mengkilap.
Warna hijau tua dan tebal menyerupai daun tanaman Zingiberaceae lainnya.
Bunga:
Terdapat kuncup bunga berbentuk kerucut (pentul) berwarna merah-kejinggaan seperti
pada foto.
Bunga kecil-kecil tumbuh dari sisik pada kerucut tersebut.
Bentuk bangunan bunganya menjadi ciri khas paling mudah dikenali.
Rimpang: Rimpang berada di bawah tanah, berfungsi sebagai tempat penyimpanan energi serta
untuk perbanyakan vegetatif.
Habitat : Tempat lembap dan tropis, seperti hutan lembap tepian sungai, serta area teduh
yang tidak terkena sinar matahari langsung sepanjang hari.
Lokasi Ditemukan : Terlihat ditanam di halaman/pekarangan rumah dengan pencahayaan cukup
dan media tanam pot besar atau tanah pekarangan.
Ciri Khas : Bunga berbentuk kerucut merah (pentul), daun tersusun spiral (spiral
ginger), tumbuh berumpun dan memiliki rimpang kuat, batang tidak berkayu,
khas Zingiberaceae.
Manfaat dan Peranan : Menyediakan nektar bagi serangga dan burung kecil, rimpangnya
Ekologis : membantu menjaga stabilitas tanah karena tumbuh rapat, Tanaman hias:
Karena bentuk bunga merah yang mencolok, obat tradisional: Beberapa
spesies Costus digunakan secara tradisional untuk mengatasi masalah
pencernaan atau sebagai herbal (tergantung spesies).
Catatan Hasil : Tumbuh subur dalam rumpun padat, menandakan tanaman sehat dan
Pengamatan cocok dengan kondisi lingkungan, terpapar cahaya cukup terang, tanah
lembap, serta area yang cukup terlindung dari angin kencang.
Interaksi:
Interaksi Biotik:
Bunga berpotensi menarik serangga penyerbuk seperti lebah atau kupu-kupu.
Daun dapat dimakan serangga herbivor kecil.
Rumpun tanaman dapat menjadi tempat hidup serangga kecil.
Interaksi Abiotik:
Memerlukan cahaya matahari sedang hingga terang.
Tumbuh optimal pada tanah lembap dan udara hangat.
Interaksi dengan Manusia:
Ditaman sebagai penghias taman/pekarangan.
Dirawat dengan penyiraman rutin.
Nama Umum (Lokal): Sri Rejeki, Daun Bahagia.
Nama Ilmiah: Aglaonema commutatum.
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Plantae
Phylum
Magnoliophyta
Class
Liliopsida
Order
Alismatales
Family
Araceae
Genus
Aglonema
Species
A.commutatum atau Aglaonema commutatum.
Deskripsi Umum:
Sri rejeki, atau dikenal sebagai Aglaonema, adalah tanaman hias populer dari genus Aglaonema yang
berasal dari hutan hujan tropis di Asia Tenggara. Tanaman ini memiliki daun yang indah dan beraneka
warna, seperti hijau, putih, hingga merah muda. Sri rejeki termasuk tanaman evergreen yang tumbuh
baik di tempat teduh dengan kelembapan tinggi, serta dikenal memiliki kemampuan menyerap racun
dan menyegarkan udara.
Ciri-Ciri Morfologi:
Akar: Sri rejeki memiliki akar serabut (monokotil) yang sehat berwarna putih bersih, gemuk,
dan berisi, dengan pertumbuhan rambut akar yang aktif.
Batang: Batangnya kokoh, tidak berkambium (tidak berkayu), dan tumbuh pendek.
Daun: Daunnya berbentuk oval dengan ujung meruncing, tekstur yang kuat, dan permukaan
mengkilap.
Habitat : Habitat asli di bawah hutan hujan tropis di Asia Tenggara, tumbuh di
daerah yang memiliki intensitas cahaya rendah dan kelembapan tinggi.
Lokasi Ditemukan : Lingkungan sekitar, perumahan yang tempatnya memiliki intensitas cahaya
rendah dan lembab. Tanaman ini ditemukan tumbuh berada di perkarangan
dalam rumah.
Ciri Khas : Daunnya yang tebal, mengkilap, dan memiliki warna serta corak yang
beragam, seperti hijau polos, hijau bergaris putih, merah muda, atau
perpaduan warna lainnya. Tanaman ini tumbuh subur di area teduh dengan
kelembaban tinggi, berbatang lunak, dan memiliki akar serabut.
Manfaat dan Peranan : Dikenal luas karena manfaat estetika dan kemampuannya untuk
Ekologis meningkatkan kualitas udara di dalam ruangan. Peran ekologis utamanya
berkisar pada fungsi-fungsi ini, terutama dalam lingkungan binaan atau
sebagai tanaman hias.
Catatan Hasil : Tanaman ini ditemukan di bawah pohon besar, hal ini menandakan bahwa
Pengamatan Tanaman ini tumbuh subur di lingkungan yang lembap dan teduh.
Interaksi:
Interaksi Biotik:
Terlihat beberapa akar dan batang tipis yang menjulur di atas permukaan tanah,
menunjukkan upaya tanaman untuk memperluas pertumbuhan di sekitar area tanam
(kompetisi spasial).
Statusnya sebagai tanaman hias dalam pot atau area pekarangan menunjukkan interaksi
dengan manusia melalui budidaya dan perawatan (penyiraman, penggantian media).
Interaksi Abiotik:
Tanaman Sri Rejeki berinteraksi dengan cahaya (cahaya terfilter, karena tanaman ini toleran
naungan) untuk melakukan proses fotosintesis.
Tanaman berinteraksi dengan tanah yang terlihat lembap dan gelap (kaya bahan organik)
sebagai penyedia nutrisi dan air.
Nama Umum (Lokal): Pohon Pepaya, Kates, Gedang, Kapaya, Papas, Kalikih.
Nama Ilmiah: Carica papaya.
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Plantae
Phylum
Magnoliophyta
Class
Magnoliopsida
Order
Brassicales
Family
Caricaceae
Genus
Carica
Species
C.papaya.
Deskripsi Umum :
Pohon pepaya adalah tanaman herba berbatang tunggal yang tidak bercabang atau bercabang sedikit,
tumbuh tegak hingga 5-10 meter. Ciri khasnya adalah mahkota daun berbentuk spiral di bagian atas
batang, daunnya besar, menjari, dan berongga, sementara bunganya berwarna kekuningan yang
terletak di ketiak daun. Buahnya bervariasi bentuknya, berwarna hijau saat muda dan berubah
menjadi kuning hingga oranye saat matang, serta mengandung biji-biji hitam kecil di bagian
tengahnya.
Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati :
Akar: Akar tunggang, berwarna putih kekuningan, dan bercabang banyak.
Batang: Berbentuk bulat, berongga, bergetah, tidak berkayu, dan berwarna abu-abu
kebiruan. Terdapat bekas pangkal daun dan tumbuh tegak lurus.
Daun: Tunggal, besar, berwarna hijau tua di bagian atas dan hijau muda di bagian bawah,
dengan pertulangan menjari dan tepinya bercangap.
Habitat : Habitat pohon pepaya adalah daerah tropis dan subtropis yang hangat,
dengan kondisi tanah lembap yang subur, pH 5,57, suhu udara 2327 °C,
dan curah hujan 1.0002.000 mm per tahun. Pohon ini berasal dari Amerika
Tengah dan tumbuh dengan baik di lokasi dengan sinar matahari penuh,
namun pada awal pertumbuhannya membutuhkan tempat yang teduh.
Lokasi Ditemukan : Lingkungan sekitar (Perumahan), Indonesia termasuk ke dalam iklim tropis
sehingga dalam penanaman pohon pepaya ini tidak terlalu sulit.
Ciri Khas : Batangnya yang tegak, tidak bercabang, dan tidak berkayu; daunnya yang
besar, menjari, dan memiliki tangkai panjang berongga; serta buahnya yang
berbentuk bulat hingga lonjong dan memiliki rasa manis saat matang.
Manfaat dan Peranan : menjaga kesuburan dan konservasi tanah karena akarnya yang dapat
Ekologis mencegah erosi. Secara ekologis, pohon ini juga berperan dalam mendukung
keanekaragaman hayati dengan menyediakan makanan bagi satwa dan
menarik penyerbuk, serta menyerap karbon dioksida. Selain itu, kanopinya
memberikan naungan yang dapat membantu mengatur suhu dan mencegah
kehilangan air.
Catatan Hasil : Pohon pepaya yang ditemukan diperkirakan berusia 4-6 bulan karena
Pengamatan pohon tersebut terlihat sangat kecil serta belum menghasilkan buah pepaya.
Interaksi:
Interaksi Biotik:
Tumbuh di bawah pohon berkanopi lebat di latar belakang (kemungkinan Mangga),
menunjukkan kompetisi untuk mendapatkan cahaya (Pepaya menerima naungan sebagian).
Daun-daunnya yang besar berpotensi menjadi objek herbivori oleh serangga atau hewan
(tidak terlihat langsung, tetapi merupakan risiko lingkungan).
Interaksi Abiotik:
Pohon Pepaya berinteraksi dengan cahaya matahari yang cerah dan karbon dioksida untuk
proses fotosintesis, ditunjukkan oleh daun-daunnya yang lebar.
Pohon Pepaya tumbuh tegak, berinteraksi dengan gravitasi dan tanah sebagai penopang.
Nama Umum (Lokal): Bunga Kertas, Bugenvil, Zinnia.
Nama Ilmiah: Bougainvillea spectabilis.
Klasifikasi dan Taksonomi:
Tingkatan Takson
Nama Takson
Kingdom
Plantae
Phylum
Magnoliophyta
Class
Magnoliopsida
Order
Caryophyllales
Family
Nyctagnaceae
Genus
Bougainvillea
Species
B.spectabilis.
Deskripsi Umum :
Bunga Kertas (Bougainvillea) adalah tanaman merambat tropis yang populer sebagai hiasan karena
memiliki bractea (daun pelindung) berwarna-warni dengan tekstur mirip kertas. Tanaman ini memiliki
batang berkayu keras dengan banyak percabangan, ditumbuhi duri tajam, dan dapat tumbuh
mencapai 1 hingga 15 meter. Bunga aslinya berukuran kecil dan menyerupai terompet, dikelilingi oleh
seludang bunga yang mencolok. Bougainvillea sangat cocok ditanam di wilayah tropis yang panas
karena tidak memerlukan banyak udara dan toleran terhadap tanah yang agak kering. Kemudahan
perawatannya membuat tanaman ini banyak dijumpai dan diminati sebagai penghias taman.
Ciri-Ciri Morfologi yang Diamati :
Akar: : Berbentuk Tunggang, tumbuh vertikal, dan memiliki akar cabang yang menyebar.
Batang: Berbentuk Perdu, tegak lurus, bulat memanjang.Memiliki Permukaan yang halus
hingga kasar, berwarna kecoklatan.
Daun: Berbentuk Bulat oval memanjang atau lanset.
Tulang daun: Menyirip.
Tangkai: Pendek : berwarna Hijau tua hingga muda.
Bunga : tersusunan Majemuk, membentuk kelompok seperti payung (payung majemuk)
yang tumbuh di ketiak daun.
Struktur bunga : Terdiri dari tangkai, tenda bunga (daun pelindung), kepala putik, benang
sari, dan tangkai sari.
Daun Pelindung: Berukuran besar, tipis, dan sering disangka sebagai mahkota karena
warnanya yang cerah.
Habitat : Daerah beriklim tropis di Amerika Selatan, yang membuatnya tumbuh
subur di Indonesia karena cocok dengan iklim tropis dan menyukai sinar
matahari penuh. Bunga ini umumnya ditemukan di berbagai lokasi seperti
pekarangan rumah, taman kota, atau area terbuka yang mendapat cahaya
matahari melimpah selama minimal enam jam sehari.
Lokasi Ditemukan : Lingkungan sekitar rumah, tanaman ini menjalar ke tembok sekitarnya
karena sifatnya sebagai tanaman rambat dan menyukai tempat dengan sinar
matahari penuh.
Ciri Khas : Seludang bunganya yang berwarna cerah dan tipis seperti kertas,
batangnya yang keras dengan duri tajam, dan kemampuannya tumbuh subur
di iklim tropis. Ciri-ciri lainnya termasuk daunnya yang lebar, tumbuh
merambat, dan dapat memiliki banyak variasi warna bunga seperti merah,
merah muda, kuning, dan putih.
Manfaat dan Peranan : Manfaat ekologis bunga kertas adalah meningkatkan kualitas udara dengan
Ekologis menghasilkan oksigen dan menyerap polutan, serta mendukung
keanekaragaman hayati dengan menarik penyerbuk seperti lebah dan kupu-
kupu. Perannya juga sebagai penutup tanah dan hiasan yang membantu
menghijaukan lingkungan.
Catatan Hasil : Bunga kertas yang ditemukan memiliki ciri-ciri bunga berwarna pink dan
Pengamatan menjalarnya bunga kertas ke tembok menandakan bahwa tanaman ini
termasuk tanaman merambat.
Interaksi:
Interaksi Biotik:
Kehadiran bunga-bunga berwarna cerah (magenta/merah muda) berfungsi sebagai daya
tarik untuk serangga penyerbuk.
Tumbuhan dirawat dan dipangkas (terlihat bentuknya yang rapi) dalam lingkungan rumah,
menunjukkan interaksi budidaya intensif oleh manusia.
Ranting-ranting saling berhimpitan membentuk semak yang padat, menunjukkan kompetisi
antar ranting/daun untuk mendapatkan cahaya.
Interaksi Abiotik:
Bunga Kertas (yang membutuhkan sinar matahari penuh) berinteraksi dengan cahaya
matahari yang cukup untuk mempertahankan kesehatan daun (hijau dan variegata) dan
merangsang pembungaan.
Tumbuhan membentuk semak padat yang berinteraksi dengan gravitasi dan tanah/pot
sebagai tumpuan.